Pameran Retrospektif 4 Dekade SR 86 — Alumni FSRD ITB Angkatan 1986. 4 Dekade 86, 1986–2026

Didukung oleh :

Institut Teknologi Bandung, Ikatan Alumni ITB, IASR – ITB, Alumni 86 FSRD ITB, ITB 86, FSRD ITB, Galeri Soemardja

← Semua peserta pameran

Foto Ni Ketut Ayu Sri Wardani

Ni Ketut Ayu Sri Wardani

Seni Lukis · FSRD ITB Angkatan 1986

Profil Seniman

Ni Ketut Ayu Sri Wardani adalah seniman/seniwati perempuan Indonesia yang berdomisili di Bandung. Ia menyelesaikan pendidikan di Sekolah Menengah Seni Rupa Negeri Denpasar pada tahun 1986 dan melanjutkan studi di Studio Lukis FSRD ITB, yang diselesaikannya pada tahun 1993.

Sejak kecil memiliki ketertarikan pada seni, khususnya seni lukis dan tari Bali. Aktif berpameran sejak tahun 1985 dan telah memamerkan karya di berbagai kota di Indonesia serta di sejumlah negara, antara lain Australia, Singapura, Amerika Serikat, Inggris, Swedia, Hong Kong, dan Filipina. Pernah berpartisipasi dalam kegiatan seni dan kepedulian lingkungan bersama seniman Asia melalui pameran dan lokakarya di Metro Manila, Filipina, lalu turut terlibat dalam konferensi, lokakarya, dan pameran perempuan di Hong Kong. Juga workshop di Yogyakarta dan Bali bersama seniman Asia dan Amerika kemudian lanjut pameran keliling di Amerika Serikat selama dua tahun.

Selain berkarya, Ayu aktif dalam berbagai kegiatan seni, pendidikan, kemanusiaan, dan perdamaian melalui seni. Pada tahun 2003, ia menjadi salah satu pendiri Bali Christian Art Association. Pada tahun 2020, ia menjadi salah satu pendiri Pertiwi Negeriku, sebuah gerakan yang berfokus pada pengembangan seni dan budaya melalui karya seni di berbagai daerah Indonesia dengan misi merajut nusantara melalui karya seni.

Sejak tahun 2021 hingga sekarang, ia dipercaya sebagai salah satu Juri Nasional untuk International Loving-Peace Art Competition, sebuah kegiatan seni yang mengangkat nilai perdamaian melalui ekspresi seni anak dan generasi muda, menyeleksi karya anak dan remaja Indonesia yang akan mewakili Indonesia ke International.

Kepergian suami, Erland Martua Hasiholan Sibuea, pada tahun 2016 menjadi babak baru dalam perjalanan hidup sekaligus perjalanan artistiknya. Sejak saat itu, ia secara khusus mengangkat budaya Batak dan alam Toba sebagai bagian dari proses personal dan ungkapan kerinduan terhadap almarhum suaminya yang berasal dari tanah Batak. Dari perjalanan tersebut, tumbuh perhatian dan kedekatan yang semakin kuat terhadap Danau Toba, budaya Batak, alam, serta kehidupan masyarakat di kawasan Toba.

Ayu menikah dengan Erland Martua Hasiholan Sibuea dan dikaruniai dua putri, Puteri Delphia Esther Sibuea dan Hannah Debora Sibuea.

Karya

Bunga Liar 1

Bunga Liar 1

120 × 90 cm · Oil on Canvas · 2026

Bunga Liar 2

Bunga Liar 2

140 × 45 cm · Oil on Canvas · 2026

Tentang Bertahan, Tumbuh, dan Tetap Berbunga

Bunga liar adalah metafora perjalanan hidup saya. Ia tumbuh tanpa harus menunggu seseorang datang menyiram, merawat, atau memberinya pupuk. Ia hadir di tempat-tempat yang mungkin tidak diperhatikan, di sudut jalan, di antara bebatuan, bahkan di tanah yang dipenuhi sampah. Terkadang ia terinjak, terabaikan, atau dianggap tidak berarti. Namun, di tengah segala keterbatasan itu, ia tetap bertahan, tumbuh, dan pada waktunya, berbunga.

Bagi saya, bunga liar mengajarkan tentang kekuatan hidup yang sederhana, tetapi mendalam. Ia tidak menunggu keadaan menjadi sempurna untuk bertumbuh. Ia tidak membutuhkan pengakuan untuk menunjukkan keindahannya. Seolah-olah seluruh keberadaannya terarah pada satu hal: terus hidup dan menghasilkan bunga, sekalipun dunia di sekitarnya tidak selalu memberinya ruang.