Pameran Retrospektif 4 Dekade SR 86 — Alumni FSRD ITB Angkatan 1986. 4 Dekade 86, 1986–2026

Didukung oleh :

Institut Teknologi Bandung, Ikatan Alumni ITB, IASR – ITB, Alumni 86 FSRD ITB, ITB 86, FSRD ITB, Galeri Soemardja

← Semua peserta pameran

Foto Bakrie Baharuddin

Bakrie Baharuddin

Desain Interior · FSRD ITB Angkatan 1986

Profil Seniman & Desainer

Bakrie Baharuddin adalah alumnus Desain Interior FSRD ITB 1986 dan Founder bykriedesign. Perjalanan profesionalnya di dunia rancang bangun berakar dari didikan kampus Ganesha sejak tahun 1986. Lebih dari tiga dekade berkarier, fondasi desainnya dibentuk melalui kolaborasi erat bersama para maestro dan konsultan terkemuka di studio ternama seperti Studio Widagdo, Hadiprana, PT Architraf Perdana Jakarta, Studio Gradian Desain, hingga Harold Associates, sebelum akhirnya memantapkan langkah melalui praktik mandiri bykriedesign. Baginya, mendesain arsitektur, interior, maupun produk mebel adalah sebuah tanggung jawab moral untuk menghadirkan ruang yang adaptif dan mempermudah aktivitas penggunanya, dengan menyelaraskan kemajuan teknologi tanpa merusak citra serta tradisi lokal masyarakat.

Rekam jejak karyanya mencakup spektrum yang sangat luas di tingkat nasional. Mulai dari infrastruktur strategis seperti ruang kontrol teknologi PLTA Saguling dan gedung BPSDM Jawa Barat, pelestarian budaya melalui interior Museum Batik TMII dan Museum MRT Jakarta Kota, fasilitas publik di Universitas Padjadjaran dan SMKN 7 Bandung, hingga deretan arsitektur hunian privat eksklusif. Eksplorasi material lokal juga membawa karya furniturenya, "Boomerang Living Set", meraih Silver Prize pada Indonesia Furniture Design Award 2017.

Karya

Jejak Rote, Harmoni tradisi dan alam

Jejak Rote, Harmoni tradisi dan alam

100×100 cm · Kain motif Rote cat Akrilik · 2026

Karya instalasi ini merupakan sebuah jembatan visual yang mempertemukan kedalaman spiritualitas karya nusantara dengan estetika seni rupa kontemporer. Di jantung karya, sehelai syal tenun ikat khas Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT), terbentang vertikal menceritakan ketekunan, memori kolektif, dan doa-doa yang ditenun lewat perulangan motif geometrisnya yang sakral. Kain tradisional ini bukan lagi sekadar sandang, melainkan sebuah naskah visual dari peradaban bahari yang kokoh.

Keberadaan kain dipertegas oleh bentangan horizontal batang waregu. Kehadiran kayu organik ini memberikan ritme penyeimbang—struktur garis yang tegas namun bersahaja—merepresentasikan bagaimana masyarakat Rote beradaptasi dengan alam lingkungan sekitar secara harmonis.

Seluruh elemen tersebut berdialog di atas permukaan kanvas dengan sapuan efek keemasan (gold leaf/metallic accent). Latar belakang ini memancarkan aura sakral, memuliakan kain tenun sebagai 'harta karun' budaya yang nilainya tak lekang oleh waktu. Kilau emas yang samar berpadu dengan tekstur kasar kanvas menciptakan dualitas yang memikat: antara kemegahan tradisi masa lalu dan ruang ekspresi modern hari ini. Dipajang di atas easel kayu, instalasi ini menegaskan bahwa tradisi Rote tidak pernah mati; ia terus bergerak dan ditempatkan sebagai mahakarya yang terus diapresiasi oleh zaman.

Gelombang Emas Kehidupan

Gelombang Emas Kehidupan

40x 100 cm · Gypsum dan cat Akrilik · 2026

Sebuah eksplorasi visual yang kuat menggabungkan seni lukis abstrak dan relief taktil. Panel vertikal ini menyajikan kontras dramatis antara latar belakang hitam bertekstur matte dengan kemewahan warna emas metalik yang memantulkan cahaya. Sapuan kuas ekspresif di bagian atas bertransisi secara memukau menjadi lipatan-lipatan organik tiga dimensi yang tebal di bagian bawah. Tekstur yang menyerupai ombak atau tirai bergelombang ini memberikan volume, dimensi baru, dan bayangan yang terus berubah tergantung dari sudut pencahayaan ruangan, mengundang penikmatnya untuk menyentuh sekaligus meresapi keanggunan bentuknya."